Dor...! Dor...! Dor...!
Awas...! Tiarap...! Lari...! Dor...! Dor...! Dor...!
Suasana yang sangat mencekam datang dengan tiba-tiba. Semua orang berlari kesana kemari tanpa tujuan. Saat ini, semua sudut kota terasa tidak aman lagi.
Joko ikut berlari ketakutan. Dia merasa aneh dengan keadaan yang sedang dihadapinya sekarang. Dia tidak mengenali tempatnya sedang berada. Namun, dia tetap berusaha untuk menyelamatkan diri.
Joko terheran-heran ketika melihat sekelompok orang yang berlari-lari. Di tangan mereka terdapat sebilah bambu dengan panjang sekitar dua meter. Salah satu ujungnya runcing sekali. Sepertinya, mudah saja kalau hanya menembus dada manusia. Apa yang sedang mereka lakukan, pikir Joko.
”Awas, Nak...! Menghindar...!
Tiba-tiba Joko mendengar teriakan yang sangat keras. Tanpa pikir panjang dia langsung menghindar dari tempat semula. Teriakan itu telah menyelamatkan nyawanya. Coba saja kalau tidak lekas menghindar, sebutir peluru siap bersarang di kepalanya.
Joko semakin heran. Banyak mayat yang tergeletak di sekelilingnya. Tentunya dengan tubuh yang berlumuran darah. Dia ngeri melihat keadaan itu. Ditambah dengan keadaan sekitar yang hancur lebur. ”Sebenarnya apa yang sedang terjadi?”
Joko terus berlari tanpa tujuan. Dia tidak tahu ke mana akan pergi. Yang ada di pikirannya hanya cara agar bisa selamat.
Sudah berjam-jam Joko berlari. Namun, belum juga menemukan tempat yang aman untuk bersembunyi. Lalu diikutinya salah seorang penduduk. Mungkin penduduk itu juga mempunyai tujuan yang sama dengannya. Menyelamatkan diri.
Joko terus berlari mengikuti penduduk tadi. Tanpa disadari dia sudah berada di sebuah hutan belantara. Mungkin aku bisa menemukan tempat persembunyian yang aman di hutan ini, pikirnya. Ketika sedang mencari-cari tempat yang aman, tiba-tiba Joko menemukan sebuah goa. Tanpa pikir panjang dia langsung menuju ke goa yang tidak terlalu besar itu. Goa tersebut agak tertutupi oleh rerumputan. Jadi, dari luar tidak kelihatan kalau itu adalah sebuah goa.
Walaupun Joko merasa sudah aman, tetapi dia tetap waspada. Diawasinya keadaan sekitar dengan seksama. Tiba-tiba terdengar suara gemrudug. ”Suara apa itu?” Joko mencoba mengintip ke luar. Ternyata di luar ada sekelompok orang yang sedang berlari-lari. Tidak hanya kaum lelaki, bahkan nenek-nenek, ibu-ibu sampai anak-anak juga ikut berlari. Mungkin mereka juga ingin menyelamatkan diri.
Di belakang orang-orang tadi terdapat sekelompok pasukan berkuda lengkap dengan senjatanya. Pasukan tersebut dipimpin oleh seseorang yang berada di depan sendiri.
”Sepertinya aku tidak asing dengan orang itu, tapi siapa?” Joko merasa pernah melihat orang yang memimpin pasukan tadi. Orang itu berperawakan gagah, tampan dan tampak bijaksana. Tapi dia ragu-ragu, bahkan tidak ingat. ”Sebenarnya siapa orang itu? Apakah aku mengenalnya? Ah, sudahlah, lupakan saja. Mungkin aku memang tidak mengenal orang itu.”
Joko merasa bahwa keadaan sudah aman. Dia memutuskan untuk keluar dari tempatnya. Dia menuju ke sebuah tempat yang selama ini telah menjadi ladang penghasilan baginya. Ke mana lagi kalau bukan ke alun-alun kota.
Joko sangat akrab dengan tempat itu. Dengan berbekal sebuah gitar tua dan suaranya yang pas-pasan, dia bisa mengais rejeki di sana. Dengan penghasilannya itu, Joko bisa bertahan hidup sampai sekarang. Bukan hanya dirinya, dia juga harus menanggung biaya hidup ibu dan adik satu-satunya. Keadaanlah yang membuatnya harus begini.
Sesampainya di alun-alun kota, Joko terkaget lagi. ”Lho, ini kok beda dengan alun-alun yang biasanya? Di mana orang-orang yang biasanya di sini? Di mana teman-temanku? Di mana para pedagang asongan itu? Di mana para pasangan yang suka menghabiskan waktunya di tempat ini?” Pertanyaan-pertanyaan itu tiada henti membayanginya. Yang tersisa sekarang hanya lapangan luas yang masih tercecer oleh darah.
Joko lalu duduk di sebuah batu. Dia mencoba merenungi apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia mengingat apa saja, yang mungkin bisa menjadi petunjuk. Dan tiba-tiba dia teringat sesuatu.
”Orang itu...! Orang yang tadi aku lihat di hutan! Sebenarnya siapa?” Joko kembali membuka memori ingatan di kepalanya. Siapa orang yang sangat gagah, tampan dan tampak berwibawa tadi? ”Oh, iya, bukannya dia Pangeran Diponegoro! Seseorang yang selalu memakai jubah putih, dan sebuah sorban yang dililitkan di kepalanya. Tidak salah lagi, dia memang Pangeran Diponegoro. Orang yang memimpin perang Diponegoro! Jadi, aku sedang berada di Perang Diponegoro? Tapi, kok bisa?
Tiba-tiba, dua kelompok pasukan berkuda datang ke alun-alun itu. Salah satunya tentu saja pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Dan yang satunya lagi, siapa ya?
Aku mencoba mengingat siapa musuh Pangeran Diponegoro dalam perang Diponegoro. Apakah mungkin mereka…? ”Ya, tidak salah lagi! Mereka adalah orang-orang Belanda. Dilihat dari cara berpakainnya, mereka memang orang-orang Belanda! Dan mereka dipimpin oleh Jenderal De Kock. Orang yang sangat sadis.”
Kedua pasukan itu lalu melancarkan aksinya. Mereka saling bertikai, entah memperebutkan apa.
Tanpa disadari sudah banyak korban jiwa yang berjatuhan. Korban paling banyak tentunya dari pasukan Pangeran Diponegoro. Selain kalah dalam persenjataan mereka juga kalah dalam hal teknik berperang. Alun-alun Yogyakarta yang sebelumnya terlihat sangat damai dan tenang, kini berubah menjadi lautan darah dan mayat.
”Mundur...! Masuk ke benteng pertahanan...!” komando Pangeran Diponegoro.
Pasukan Pangeran Diponegoro yang masih tersisa menyelamatkan diri ke sebuah benteng pertahanan. Letak benteng tersebut tidak jauh dari alun-alun kota. Sekitar satu kilometer. Benteng tersebut dibangun memang untuk pertahanan rakyat dan tentunya pasukan Diponegoro. Benteng itu bernama Benteng Vredeburg. Namun, sekarang benteng itu dijadikan sebagai sebuah museum yang berisi jejak-jejak sejarah perang Diponegoro.
Joko terus mengawasi jalannya perang Diponegoro. Dia tidak mau melewatkan sedetikpun jalannya perang itu.
Mengetahui pasukan Diponegoro mundur, pasukan Jenderal De Kock juga mundur ke markasnya. Mereka mengira bahwa pasukan Diponegoro sudah menyerah dan kalah.
Tetapi, tidak semudah itu. Mundurnya pasukan Diponegoro ternyata ada tujuan tertentu. Di Benteng Vredeburg, mereka menyusun sebuah strategi. Strategi untuk mengalahkan pasukan Belanda. Pangeran Diponegoro memimpin perundingan dengan sangat bijaksana. Beliau mengusulkan sebuah rencana. Pasukan dibagi menjadi beberapa kelompok. Kemudian, mereka ditugaskan di beberapa tempat yang berbeda untuk mengepung pasukan Jenderal De Kock. Setelah perundingan selesai, mereka langsung melancarkan aksinya.
Ternyata dibalik penampilan Pangeran Diponegoro yang sangat sederhana, tersimpan kewibawaan dan kebijaksanaan yang sangat luar biasa. Hasilnya, beliau mampu memimpin perundingan dan mengusulkan sebuah strategi dengan baik.
Joko penasaran apa rencana Pangeran Diponegoro. Dia berusaha mencari tahu taktik apa yang akan dilakukan Pangeran Diponegoro untuk melawan pasukan Belanda. Joko terus menunggu di sebuah tempat persembunyian yang ada di depan Benteng Vredeburg. Tidak mengenal waktu, siang malam, panas hujan, Joko terus menunggu. Sampai-sampai dia ketiduran.
Sekitar pukul 01.00 pagi, suara kokokan ayam membangunkan Joko dari tidurnya. Dia terhentak kaget dan langsung berdiri. Disaat itu juga, pasukan Diponegoro keluar dari Benteng Vredeburg. Mereka menuju ke markas Jenderal De Kock. Dengan mengendap-endap mereka mulai memasuki markas Jenderal De Kock dan pasukannya.
Di saat itu, tentu saja tidak ada persiapan dari kubu Belanda. Karena mereka mengira kalau Pangeran Diponegoro dan pasukannya sudah kalah dan menyerah. Sehingga, mudah saja untuk mengalahkan pasukan Belanda walaupun hanya bermodalkan bambu runcing. Satu per satu bambu runcing mulai menancap ke dada para musuh. Mereka mulai berjatuhan dan akhirnya tewas. Kali ini keberuntungan berpihak kepada pangeran Diponegoro.
Joko melihat keberhasilan Pangeran Diponegoro dalam menumbangkan seluruh pasukan Belanda. Namun, di manakah Jenderal De Kock? Dari tadi tidak terlihat. Sepertinya Jenderal De Kock sudah melarikan diri ketika Pangeran Diponegoro sibuk menghabisi anak buah dari Jenderal De Kock.
”Ayo, kita kembali ke markas!” komando Pangeran Diponegoro.
Joko melihat kekecewaan di wajah Pangeran Diponegoro karena tidak berhasil menemukan pimpinan pasukan Belanda itu. Terpaksa mereka kembali ke markas dengan raut wajah kecewa.
Dor...! Dor...! Dor...!
Tiba-tiba Joko mendengar suara tembakan. Tembakan itu hampir mengenai dada Pangeran Diponegoro, untungnya meleset. Dan seketika anak buah Pangeran Diponegoro berhasil menangkap pelaku penembakan itu. Ternyata dia adalah kaki tangan Jenderal De Kock. Orang itu terus dipaksa untuk memberitahukan keberadaan Jenderal De Kock. Dan akhirnya Jenderal De Kock berhasil ditangkap berkat bantuan dari kaki tangannya.
Pangeran Diponegoro pulang dengan puas. Terbukti, ternyata persenjataan yang canggih dan modern tidak cukup untuk mencapai kemenangan. Hanya tekad, niat baik dan keyakinan yang kuatlah yang mampu mewujudkan segalanya.
Joko khawatir jika keberadaannya selama ini dicurigai sebagai mata-mata dari Belanda. Ternyata benar, salah seorang pengawal Pangeran Diponegoro memergokinya dan menghampirinya. Joko panik. Dia tidak menyadari kalau di belakangnya ada sebuah batu. Dan Joko terpeleset.
”Apa yang akan terjadi dengan Joko?”
Brak...!
Ketika Joko sadar, dia heran. Karena tempatnya berada sekarang berbeda jauh dengan tempat waktu dia dipergoki oleh pengawal Pangeran Diponegoro. Joko berada di sebuah tempat yang tidak asing lagi. Ya, di alun-alun kota Magelang. Yang dilihatnya hanya sebuah patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggangi kudanya. Dan di depannya, Akbar sudah berdiri, mungkin sudah cukup lama. Joko makin bingung.
”Hey, kau! Ayo, kerja lagi! Mau dapat uang tidak?”
”Ha, apa?”
”Ayo kerja!” bentak Akbar.
”Oh, iya iya! Bar, kamu tahu yang barusan terjadi tidak?”
”Ah, kamu, memangnya apa yang barusan terjadi? Dari tadi tidak terjadi apa-apa. Yang aku lihat hanya kau yang dari tadi tidur. Ayolah, kerja lagi!”
”Oh, gitu ya, ya sudahlah!”
Suara petikan gitar yang mengiringi sebuah lagu mulai didendangkan. Joko dan Akbar kembali ke keramaian Kota Magelang untuk mengais rejeki.
***





0 komentar:
Posting Komentar